Persepsi pada Profesi

Dok. Flyer tahun 2019

Susilo*)

Persepsi kita tentang sesuatu akan menentukan perlakuan kita terhadapnya. Maka cara pandang terhadap profesi diri, menjadi penentu pula bagaimana perlakuan kita kepadanya. Nah, bagaimana persepsi kita?

Beberapa definisi persepsi. Persepsi, menurut ilmu psikologi merupakan proses kognitif psikologis yang dilakukan seseorang untuk memahami lingkungan sekitarnya melalui indra yang dimilikinya, mengolahnya, dan menginterpretasikan informasi yang diterima. 

Persepsi adalah proses untuk memahami lingkungan dengan mengorganisasikan dan menafsirkan kesan-kesan indera. Persepsi merupakan salah satu faktor psikologis yang berperan dalam pembentukan perilaku seseorang.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), persepsi adalah tanggapan langsung atau proses seseorang mengetahui beberapa hal melalui pancainderanya. 

Menurut Suranto AW (2010), persepsi adalah proses internal yang mana telah diakui oleh individu ketika menyeleksi dan mengatur stimuli yang berasal dari luar. 

Menurut Stanton, persepsi adalah makna yang kita pertalikan berdasarkan pengalaman masa lalu dan stimulus (rangsangan-rangsangan) yang kita terima melalui panca indra. 

Dari beberapa definisi di atas, alur yang kami pahami adalah, semua informasi masuk dalam mesin pengolah (pikiran) melalui indera, setelah diolah dengan adonan bumbu-bumbu yang ada dalam pikiran kita dan tahap berikutnya adalah masuk dalam tahap kwality control, hati/perasaan. Jika kedua proses berjalan seiring, maka akan tercipta produk interpretasi yang proporsional. Dari sini sumber timbulnya aksi yang selaras dengan interpretasi.

Mengenang dan mencoba mengurai pemikiran kami lima tahun lalu yang kami abadikan dalam flyer dengan judul Persepsi Anda terhadap Profesi Diri, terdapat dua bentuk persepsi terkait hal tersebut, yaitu:

Pertama, Memandang profesi sebagai pekerjaan. Jika kita memandang dengan sudut pandang ini, maka sudah seharusnya setiap pekerjaan kita lakukan dengan tatakerja dan prosedur yang benar. Hasil kerjaannya (kinerja) jelas dan berkwalitas, sehingga layak mendapatkan upah (gaji) sesuai ketetapan. Pekerjaan berkorelasi dengan gaji.

Persepsi pertama ini biasanya beranggapan profesi itu pekerjaan, kompensasinya adalah gaji (bagian dari bentuk rizqi). Menurut kami cara pandang ini yang perlahan-lahan akan bisa menyeret pada pola pikir, sikap dan perilaku QQ (Quiet Quitting, sebagaimana tulisan kami beberapa waktu lalu).

Kedua, Memandang profesi sebagai pengabdian, jika ia bentuk ‘pengabdian’ maka selayaknya abdi harus sepenuh jiwa total dalam loyal. Focus terus pada kinerja; mencapai target dan sasaran hingga mampu memberikan yang terbaik untuk ‘tuannya’. Pengabdian berkorelasi dengan rizqi.

Cara pandang yang ini, menjadikan seorang bekerja rileks, tanpa beban, merasa sebagai konsekwensi sebuah pengabdian. Terlebih jika ‘pengabdian’ dimaksud dipandang dari sudut spiritual bahwa ‘Tuan’ yang sejati bukan atasan tetapi ‘Tuhan’, maka totalitas dalam mengabdinya karena ikhlas dan semata mengharap ridho Tuhan bukan pujian Tuan. Cara pandang inilah yang akan terus mendongkrak kinerja sehingga terbentuk kepribadian OCB (Organizational Citizensahip Behavior).

Persepsi versi yang kedua ini akan membimbing seorang dari positive thinking menjadi positive feeling atau perasaan positif yang berkembang dari sifat ikhlas dan bersih-bersih diri dengan melepaskan diri dari sifat-sifat negatif. Penampakan kepribadian ini ialah bahagia saat mendapatkan hal yang diinginkan, lega ketika terhindar dari bahaya, dan bersyukur dengan kondisi yang dimiliki. 

Berperasaan positif menghasilkan energi positif yang dapat membuat seseorang menjadi bersemangat, melakukan hal-hal yang benar, dan menjadi bahagia.  Ia selalu melihat sesuatu tanpa melihat sisi negatif. Mampu mengambil hikmah di balik masalah yang menimpa. Memusatkan perhatian pada sisi positif dari keadaan diri, orang lain, dan situasi yang dihadapi. 

Berperasaan positif membuat seseorang lebih fokus untuk melihat kebaikan dalam situasi apapun. Hal ini dapat membuat seseorang menjauhi hal-hal negatif dan pengaruh buruk lainnya.

Semoga bermanfaat.

*) Anggota SPK Tulungagung, Paksi dari Forum JatimPAK. 

Comments

Popular posts from this blog

DAKWAH, SOSIAL, DAN NASIONALISME

Kekuatan yang Tak Terkalahkan

MALU DENGAN SEPATU