Menabur Pupuk di Madina Sangata
Susilo*).jpeg)
Memperhatikan keseriusan santri
Kemarin (6 November 2024), bagian dari rutinitas setiap hari Rabu jam 07.00-08.00 kami diberi kesempatan, ruang dan sumber daya penerus bangsa, untuk turut berperan memberi warna melalui materi dalam Kitab Mabadi Fiqiyah karya Syech Umar Abdul Jabbar. Kebetulan kami masuk di klas 8-J Madina Sangata (program Madrasah Diniyah SMPN 1 Ngantru Tulungagung). Kesan awal tampak para santri telah siap lahir batin, sangat baik dan terkendali. Mulai dari salam hingga, do’a selesai kami amati para santri begitu tertib dan khusyu’.
Sudah menjadi ciri khas yang kami biasakan bagi santri yaitu membacakan al Fatihah untuk kedua orang tua masing-masing, para Guru dan santri Madina Sangata semua. Kemudian kami teruskan dengan pertanyaan utama, “Siapa yang pagi tadi sholat Subuh berjamaah?” Masyaa Allah, luar biasa ada yang tunjuk jari dua orang santri. Grid pertanyaan kami turunkan, “Siapa yang tadi pagi sholat Subuh, tidak berjamaah?” Luar biasa, 80 % sholat Subuh, alhamdulillah. “Siapa yang telah rutin mendirikan sholat lima waktu?”, pertanyaan kami selanjutnya. Subhanallah, 65% dalam hitungan kami, pada santri yang tunjuk jari sebagai pernyataan telah melaksanakan.
Selanjutnya kami jelaskan mengapa menanyakan itu, “Nak, tahukah kalian, mengapa PAK Shoes menanyakan tentang sholat kalian? Karena sholat adalah amal yang pertama kali kelak ditanyakan di akhirat, maka sholat selalu kami tanyakan lebih awal sebelum melanjutkan materi pelajaran”.
“Sholat adalah gerbang pembuka kesuksesan (al falah) bagi siapa yang menegakkan. Siapa yang memperhatikan sholatnya, sama dengan mempersiapkan bagaimana masa depannya sendiri”. Tambahan penjelasan kami.
Pertanyaan selanjutnya mengarah pada materi, maka kami tanyakan materi sudah sampai dimana, sambil mereviu ingatan para santri. Meraka pun menjawab materi akhir yang pernah diterima, sambil kami amati ternyata ada dua santri putri yang membawa kitab. Karenya kami terpancing untuk menambah pertanyaan, “Siapa yang di rumah mengikuti klas Madin?”. Ternyata ada 7 santri, wah klas ini menurut kami benar-benar istimewa.
Dengan mengetahui peta santri dan kondusifnya klas, maka metode pembelajaran di klas ini kami mengajak santri untuk berdiskussi. Kami ajak para santri untuk mengingat ulang sakaligus memicu keberanian menjawab. Kami coba tarik mundur jauh dengan pertanyaan materi Kitab dalam juz 1, bagus banget mereka bisa merespon. Akhirnya terjadilah diskusi yang hidup terkait materi-materi lanjutan dan beberapa studi kasus fiqih.
Menurut kami klas 8-J memiliki potensi luar biasa, kami yakin potensi ini terus bisa didongkrak lebih dan lebih lagi, demikian pula di klas yang lain masing-masing ada keistimewaan. Untuk itu bersama-sama kita perlu terus dan teratur 'menabur pupuk' sebagai booster bagi tumbuhkembang potensi mereka. Karna mereka adalah calon penerus yang berintegritas, berkwalitas, semoga Allah meridhoi atas upaya kita bersama, aamiin.
Semoga bermanfaat.
*) Tim Relawan Madina Sangata, Paksi dari Forum JatimPAK
Comments
Post a Comment