Memaknai Warisan Para Pahlawan
Memutar kembali rekaman ingatan kita pada peristiwa heroik 79 tahun lalu, tepatnya 10 Nopember 1945. Walau kita tidak mengalaminya, namun informasi yang pernah kita rekam mampu membawa alam pikiran kita bak bagian dari kisah heroiknya. Kisah hebat itu begitu kuat mendominasi alam bawah sadar, sehingga menginspirasi dan memotivasi kita.
Meneladani semangat kepahlawanan merupakan kewjiban kita sebagai generasi penerus perjuangan. Bentuk dari meneladaninya adalah mewujudkan sifat-sifat kepahlawanan dalam kedhiupan sehari-hari. Penting karena dapat membantu kita untuk menjadi pribadi yang optimis, berintegritas dan memiliki mental pemenang.
Selain tersebut di atas, meneladani semangat kepahlawanan bermanfaat pula untuk; Membangun rasa nasionalisme dan patriotisme. Memiliki semangat untuk menghadapi tantangan hidup. Mengembangkan karakter yang kuat dan berintegritas. Membangun landasan nasional yang kokoh dan berkelanjutan. Mempersiapkan generasi penerus bangsa yang siap menghadapi tantangan masa depan.
Beberapa sikap kepahlawanan yang sangat relevan untuk kita terapkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara antara lain; Berani, Rela berkorban, Membela kebenaran dan keadilan, Cinta tanah air, Berjiwa besar, Kerja sama dan tanggung jawab, Menjaga persatuan dan kesatuan,
Lalu, bagaimana cara membangun sifat-sifat kepahlawanan diera kini? Adalah dengan meningkatkan pemahaman dan pengamalan wawasan kebangsaan dan bela negara.
Wawasan Kebangsaan adalah cara pandang bangsa Indonesia tentang diri dan lingkungannya mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa serta kesatuan wilayah yang dilandasi Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Bela Negara adalah tekad, sikap, dan perilaku serta tindakan warga negara, baik secara perseorangan maupun kolektif dalam menjaga kedaulatan negara, keutuhan wilayah, dan keselamatan bangsa dan negara yang dijiwai oleh kecintaannya kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dalam menjamin kelangsungan hidup bangsa Indonesia dan Negara dari berbagai Ancaman, Ganggunan, Hambatan dan Tantangan.
Beberapa cara untuk menghargai jasa para pahlawan adalah: Belajar dengan sungguh-sungguh, Menjunjung rasa saling menghormati dan menghargai, Mengikuti upacara peringatan Hari Pahlawan, Mendoakan para pahlawan yang telah gugur.
Sepenggal dari Kisah Kepahlawanan
Peristiwa 10 Nopember 1945 di Surabaya sangat erat pertaliannya dengan Resolusi Jihad, 22 Oktober 1945 yang digagas oleh KH. Hayim Asy'ari (Muasis Nahdlatul Ulama). Beredarnya Naskah Resolusi Jihad telah memicu ghiroh perjuangan para Santri dan Masyarakat di sekitar Surabaya. Termasuk di dalamnya ada Bung Tomo, atas restu dan ijazah dari Kyai Hasyim Asyari sebagai orator pengobar semangat Arek-arek Surabaya dengan takbir yang berkumandang disetiap orasinya.
Peristiwa seirama tapi beda tempatnya, Jendral Sudirman adalah satu diantara Pahlawan Pembela Kemerdekaan yang sangat dihormati, nama Beliau dijadikan salah satu contoh heroisme dan nasionalisme setiap peringatan Hari Pahlawan. Dikisahkan dalam Biografi Jendral Sudirman, pada 12 November 1945, Sudirman terpilih sebagai pemimpin Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan dipromosikan sebagai Jenderal. Ia memimpin pasukan dalam perang gerilya melawan agresi militer Belanda.
Pada 1948 Sudirman didiagnosis mengidap tuberkulosis (TBC) hingga pada November 1948, paru-paru kanannya dikempeskan lantaran ditengarai sudah mengalami infeksi. Meskipun sakit parah, Desember 1948 Sudirman melakukan perlawanan terhadap Agresi Militer II Belanda yang terjadi di Yogyakarta. Sudirman tetap memimpin dengan semangat dan keberanian.
Saat yang bersamaan, pemerintah Indonesia dan Belanda mengadakan konferensi panjang selama beberapa bulan yang berakhir dengan pengakuan Belanda atas kedaulatan Indonesia pada 27 Desember 1949. Sudirman saat itu juga diangkat sebagai Panglima Besar TNI di negara baru bernama Republik Indonesia Serikat.
Selang sebulan, tepatnya pada 18.30 tanggal 29 Januari 1950 Jenderal Sudirman wafat di Magelang, Jawa Tengah akibat penyakit TBC yang dideritanya. Namun, pengabdiannya terhadap bangsa Indonesia diakui dengan penghormatan tertinggi. Beliau dimakamkan dengan prosesi militer dan diangkat sebagai Pahlawan Pembela Kemerdekaan.
Pahlawan Era Transformasi
Para Santri dan Masyarakat Surabaya yang tak memiliki persenjataan, bahkan mereka tak mampu mengoperasionalkan senjata, dan keterbatasan pengetahuan strategi perang. Mereka gigih berjuang mempertahankan kemerdekaan dengan penuh keyakinan dibawah komando para Kyai.
Jendral Sudirman hidup dengan separuh paru-paru, namun tak mematikan semangat juangnya untuk mempertahankan kemerdekaan. Bahkan bekas kaki perjalanan gerilyanya masih bisa kita jumpai sampai saat ini. Maka tidak ada alasan bagi kita untuk tidak mempertahankan dan mengisi kemerdekaan dengan segenap kemampuan. Bagimana profile pahlawan pada masa kini?
Dari pejabat hingga rakyat jika mereka mampu mempertahankan 9 nilai integritas, maka mereka adalah pahlawan yang bisa mempertahankan dan mengisi kemerdekaan.
Seorang Guru atau Dosen, Ustadz dan Kyai, atau Pemimpin Agama yang lain mereka adalah pahlawan dalam mendidik dan membimbing umat menuju masa depan yang cerah malalui jalan yang benar.
Seorang Pegawai atau karyawan baik negeri maupun swasta, mereka juga pahlawan yang memberi nilai, citra baik, pelayanan yang memuaskan, iklim yang sehat pada organisasi pemerintah maupun institusi profesi lain.
Seorang Bapak dan Ibu, adalah pahlawan bagi keluarga dan bangsanya, karena telah mendidik generasi bangsa yang berakhlak mulia.
Begitu pula seorang anak yang berbakti kepada orang tuanya, menghormati Guru, atau Dosennya juga disebut pahlawan, karena telah mampu melawan hawa nafsunya untuk tidak berlaku durhaka dan juga mereka mempersiapkan diri menjadi generasi penerus yang berintegritas.
Dimanapun posisi kita, apapun profesi kita, semua bisa menjadi pahlawan bagi bangsa dan negara dengan mendharmabaktikan diri secara proporsional.
Selamat Hari Pahlawan 10 Nopember 2024.
*) Anggota SPK Tulungagung, Paksi dari Forum JatimPAK.

Comments
Post a Comment