Belajar Menulis untuk Membaca

 

(Refleksi 100 hari bersama SPeKTA)

Susilo*)

Hari ini Jum’at (8 November 2024) jika dihitung mundur dengan titik awal 1 Agustus 2024, maka genap 100 hari kami bergabung dengan komunitas Sahabat Pena Kita Tulungagung di bawah asuhan Prof. Ngainun Naim. Lantaran ketemu Mas Woks sehingga kami bisa bersama dalam komunitas belajar menulis, bagi kami adalah suatu keberuntungan. Iya, karena kami yang memang benar-benar tak memiliki bekal yang memadai terkait tulis-menulis.  

Sesungguhnya aktifitas menulis sudah kami mulai sejak 2019, termotivasi membaca buku karya Profesor Naim, 'Menulis itu Mudah'. Mulai saat itu kami seperti wartawan, kemanapun bawa buku kecil untuk mencatat setiap ide yang muncul, perasaan yang kami alami, setiap kejadian yang tampak mata, bahkan daun jatuhpun kami catat. Waktu itu ide muncul kami tampilkan dalam wujud flyer. Aktifitas membuat flyer ini kami lakukan disamping termotivasi buku tersebut juga karena tuntutan peran sebagai penyuluh agar terus eksis melakukan kampanye (diera pandemi) dengan berbagai bentuk kemasan materi melalui medsos. Beberapa flyer karya kami dengan judul gonta-ganti, ada Ragi (Mutiara Pagi), Copas (Celotah PAK Shoes), KB (keluarga berintegritas), dan Kata-kata Jari Ini.

Bersama SPeKTA (sebutan kami untuk komunitas hebat ini), kami mendapatkan spirit baru, motitvasi menyala untuk menulis, tak hanya membuat flyer seperti selama ini. Kata si Mbah memang benar ‘Galangan kalah karo golongannah 100 hari terakhir ini kami ikutan golongan orang-orang yang memiliki kebiasaan menulis, maka galangan kami yang sesungguhnya bukan seorang penulis pelan-pelan terpapar semangat mereka.

Sejak itu kami berusaha komitmen menyediakan waktu yang tepat untuk aktifitas baru ini, kami putuskan (walau tanpa SK) setelah jamaah Subuh antar 0,5 – 1 jam untuk menulis apapun ide yang muncul. Sepanjang perjalan waktu, kami bisa memetik manfaat bahwa dengan menulis setiap hari memacu kami untuk membaca secara rutin pula, setiap saat berusaha cari sempat. Kemudian, manfaat berikutnya adalah turut menyebarluaskan kebaikan, jika tulisan kami ada yang mau membaca merupakan suatu kehormatan, jika dari tulisan kami ada satu orang saja yang menerima manfaat, maka ini suatu keberuntungan luar biasa.

Setahu kami beberapa tujuan dari menulis adalah memunculkan Ide-ide, mendidik, menghibur, dan menyebarluaskan informasi. Maka menulis menurut kami bermanfaat pula menjaga keseimbangan diri, bila ada ide dinikmati sendiri dulu menjadi stimulant munculnya ide baru lagi. Menulis sesungguhnya mendidik diri sendiri, menghibur diri dan bukan hanya menyebar tapi malah menerima berbagai informasi, karena kami menjadi banyak membaca.

Lompatan luar biasa bagi kami, dengan motivasi Sahabat Pena semua khususnya Prof Naim, kami yang selama ini tak memiliki kepercayaan diri untuk menerbitkan buku solo, wasilah komunitas SPeKTAkuler ini bisa terjadi. Memang sebelumnya beberapa kali pernah turut menyusun buku ajar anti korupsi, antologi; keroyokan bersama-sama rekan-rekan Penyuluh Anti Korupsi (Paksi), sedang terbit solo belum pernah berani. Karenanya ungkapan terima kasih luar biasa kepada semua Sahabat Pena, bersama dengamu buku solo pertama kami tercetak.

Menurut pengamatan dan yang kami rasakan, bahwa menulis itu melibatkan semua organ tubuh, mulai dari hati (perasaan), otak, mata, telinga, tangan, tulang punggung hingga kaki, semua turut berperan. So, menurut kami menulis itu menjadi olahraga lahir-batin, terwujud sehat fisik, sehat pikir (gak gampang pikun kali, he he).

Beberapa waktu lalu, Kamis keempat (24 Oktober 2024) merupakan jadwal siar rutin di 96,2 Samara FM kami mengangkat thema ‘Mengintip Buku Istiqlal, Monas, dan Kotaku’, sebagai media latihan bedah buku (he he kami belum punya pengalaman hal ini). Manfaat ‘efek karambol’ yang kami terima lagi dari menulis, tadi malam kami ditugasi oleh Ketua Forum Jawa Timur Penyuluh Anti Korupsi (JatimPAK) untuk mempersiapkan pelaksanaan ‘bedah buku’ karya kami sebagai bagian dari Road to HAKORDIA (Hari Anti Korupsi se-Dunia) menuju agenda puncak di Gedung Merah Putih (KPK) 9-11 Desember 2024. Event ini dengan peserta semua anggota dari Penyuluh Anti Korupsi se Provinsi Jawa Timur. Sungguh luar biasa banyak manfaat yang kami dapat dari belajar menulis dan membaca bersama SPeKTA.

Semoga komunitas Sahabat Pena Kita Tulungagung makin eksis menyebarkan virus motivasi untuk berani menulis.

*) Anggota Komunitas SPeKTA, Paksi dari Forum JatimPAK.

Comments

Popular posts from this blog

DAKWAH, SOSIAL, DAN NASIONALISME

Kekuatan yang Tak Terkalahkan

MALU DENGAN SEPATU