PERCAYA DAN ASA


Matahari makin tajam memandang bumi, mengisyaratkan detik-detik sudah makin dekat dengan penggilan waktu Sholat Dhuhur. Setelah membayar pada Kang warung atas kopi dan singkong goreng yang telah kunikmati, aku melanjutkan perjalanan santaiku hari ini. 

Semangat tak pernah kendor roda si motor tua mengantarku ke sebuah musholla kecil untuk menunggu waktu dhuhur sambil cuci muka dan rehat sejenak. Kurang dari 10 menit waktu aku meluruskan tulang punggung di lantai musholla, kudengar langkah kaki makin mendekat. Rupanya yang datang seorang kakek yang perkiraanku berusia 65 tahunan. Belaiu mengucapkan salam dan ta’aruf sejenak denganku, kemudian beliau minta ijin untuk adzan. 

Merinding aku mendengar suara adzan serak-serak bergetar khas orang yang sudah tua. Setelah adzan usai segera kuambil wudhu. Kakek muadzin tadi kurasa cukup lama pujian, hadirlah empat orang lansia, mungkin mereka yang ditunggu dan jamaahpun segera dimulai. Usai jamaah dzikir dan do’a beberapa lansia menghampiri, berkenalan dan mengajak ngobrol akrab, mereka sangat bersahabat, sopan dan menghargai, terlihat kental banget adab dan tata krama khas masyarakat desa.

Kami ngobrol mengalir saja tanpa thema khusus, diakhir obrolan santai itu aku minta do’a kepada Mbah Abdullah (imam musholla ini), Belaiu sudah tua namun terlihat sehat dan semangat, dari obrolan aku jadi tahu ternyata Beliau adalah seorang Tentara Veteran . “Kyai, mohon maaf, sebelum pamit melanjutkan perjalanan, kulo nyuwun barokah do’anya njih..” Hatiku yakin do’anya seorang yang tulus seperti beliau, in syaa Allah maqbul.

“Iya, in syaa Allah kami juga rutin mendo’akan untuk negeri ini, karena hanya dengan do’a inilah kami bisa membantu perjuangan pembangunan negeri sekarang ini...” Jawab Mbah Dullah membuatku makin kagum atas ketulusannya. Seraya Beliau memimpin do’a dan yang lain mengamininya.

Do’a telah usai, dalam benakku masih ada pertanyaan yang ingin aku sampaikan, anganku masih dipengaruhi obrolan orang-orang di warung yang dipenuhi pesimisme tinggi akan kondisi negeri ini, “Kyai, mohon diberi penguatan keyakinan, apa kiranya berbagai persoalan negeri saat ini dan terkhusus merajalelanya korupsi bisa dikurangi bahkan bisa bersih njih Yi?....”

Dengan semangatnya Beliau memberikan ulasan nuansa spiritual dan logis, “Mas Bejo, yakin kan dengan kekuasaan Allah?” (Aku mengiyakan dengan menganggukkan kepala). “Mas Bejo yakin juga bahwa semua yang terjadi, keadaan yang ada adalah ciptaan Allah?” (Aku menganggukkan kepala lagi). “Percayakah Mas Bejo, bahwa setiap yang diciptakan, semua keadaan dibaliknya ada dan bahkan banyak hikmahnya bagi semua hamba?” (Iya benar, percaya dalam hatiku). Masih dengan style semangat membara Beliau meneruskan, “Bagi hamba yang yakin akan kekuasaan-Nya, maka tiada hal yang tidak mungkin.. Apapun itu keadaannya mudah bagi Allah untuk merubah.” (Masyaa Allah, aku hanya bisa tertunduk, selama ini kiranya aku sering kehilangan keyakinan akan kekuasaan-Nya sehingga mudah luntur asaku).

“Mas Bejo, kenyataan yang terjadi dinegeri kita entah itu berupa korupsi, kecurangan dan ketidakjujuran baik pada diri Penguasa atau secara umum dikalangan masyarakat biasa, bagi orang yang percaya bahwa ini semua mung alur kisah dalam kekuasaan-Nya. Maka kasunyataan urip kang gumelar iku dadi ladang kanggo berdakwah, untuk mengajak kebaikan, mempertahankan diri dalam kesabaran dan keikhlasan.” Penjelasan Mbah Dullah yang diselingi dengan batuk-batuk.

“Setiap kawulo yang memiliki keyakinan akan kekuasaan Allah, bahwa pasti bisa merubah negeri ini, maka keadaan ini merupakan kesempatan sing diparingke kanggo kita untuk bersandar, bersabar dan saling mendo’akan.” Imbuhnya yang makin menguatkan keyakinan aku akan kepastian perubahan di negeri ini.

Naaahh, putus asa atas suatu keadaan itu menjadi pertanda menurunnya keyakinan akan kemahakuasaan Tuhan. Kanggo wong kang jejeg keyakinanne, maka ora pupus semangate.” Makin panas bara di dadaku, tambah bertumbuh keyakinan dan semangatku.

Mbah Dullah menyampaikan clossing statement; “Selama masih ada keyakinan akan kekuasaan-Nya, maka akan selalu ada harapan masa depan yang lebih baik. Selama masih percaya kepada Yang Maha Esa selama itu pula kan selalu ada asa.”

Setelah semua aku rasa cukup, akhirnya aku berpamitan kepada Kyai dan Jamaah yang ada di Musholla Al Huda ini. Aku pun melanjutkan perjalanan, karena langit sudah tampak pertanda akan hujan aku putuskan untuk pulang saja deh. Udara semakin terasa dingin, mendung semakin tebal, angin berhembus makin kencang pula, namun jiwaku masih terasa hangat terinduksi semangat dari Mbah Dullah. Keyakinan harapan masa depan negeri ini menjadi negeri yang berintegritas, negeri yang berkwalitas makin kuat dalam hatiku. 

Comments

Popular posts from this blog

DAKWAH, SOSIAL, DAN NASIONALISME

Kekuatan yang Tak Terkalahkan

MALU DENGAN SEPATU