Integritas Dibalik Thot-thot
![]() |
| Ini bukan foto Pak Thot-thot, ilsutrasi pemanis saja Gaes.. |
Semoga ini menjadi bagian dari jihadku untuk keluarga ya Gaes.. Tiap pagi kecuali hari Sabtu dan Ahad (karena anaku kan ada di rumah) dengan senang dan riang aku menyatukan diri dengan kegiatan istri di dapur, entah itu ngulek bumbu, nyukil kelapa, ganti gas hingga belanja. Yang aku share ini adalah giat disaat mendapat tugas suci dari istri, untuk belanja tahu dan tempe. Gaes, langganan keluargaku adalah Pak Thot-thot, biasanya sambil ketik-ketik bikin macem gini, aku nunggu datangnya suara "Thot-thot..thot-thot.."
Mengapa dipanggil Pak Thot-thot? Karena setiap keliling untuk mempromosikan dagangannya (tahu dan tempe), selalu membunyikan klakson motornya, "Thot-thot-thot-thot, thot-thot-thot-thot...." sepanjang jalan, sehingga Nyak-nyak manggil dengan sebutan Pak Thot-thot. Jika suara itu telah terdengar, maka pada ngantri di tepi jalan menunggu kehadirannya dengan meletakkan wadah di pagar depan rumah masing-masing. Pak Thot-thot seperti artis idola yang selalu dinanti penggemarnya, he he...
Suatu ketika aku ngobrol tipis dengan Pak Thot-thot, "Pak, jam segini udah nyampe sini, berangkat teko rumah jam piro?" "Setelah Sholat Subuh, Pak", jawabnya. "Lha nggawene tahu-tempe, jam pinten?" Introkepo kuteruskan. "Sekitar jam 2 siang, setelah istirahat dari jualan...", penjelasan Pak Thot-thot. Kalimat terakhir Pak Thot-thot yang kuingat karena memang selalu diucapkan setelah melayani kebutuhan costumer adalah, "Matur suwun...". Dalam hatiku kagum dengan istikomahnya bersyukur versi sosial yang aku yakin menjadi gambaran dari sisi spritual.
Pagi tadi saat terdengar suara khas sebagai penanda datangnya, aku baru terpikir lebih dalam dengan apa yang dilakukan Pak Thot-thot. Kesimpulan dari pengamatanku, Beliau sungguh luar biasa, keikhlasan, kegigihan, semangat dan kontinuitasnya terjaga. Beliau bersungguh-sungguh dalam melaksanakan kewajiban jihad untuk memberi nafkah keluarga dengan segala daya yang ada. Pak Thot-thot mampu berkomitmen mempertahankan integritas jati diri sebagai seorang suami. Ini pelajaran berharga buat aku agar bisa lebih banyak dan terus bersyukur atas semua karunia-Nya, istri, anak, keluarga bahagia, kesehatan, saudara, sahabat, sumber rezeki dan rupa-rupa fasilitas yang beraneka.
Pak Thot-thot, tak hanya tahu dan tempe yang diperdagangkan, sesungguhnya juga telah melakukan transaksi bisnis yang besar dengan Yang Maha Besar. Semoga Pak Thot-thot, semua pembaca dan aku sekelurga juga dong (hi hi gak mau ketinggalan), selalu dikaruniai kebahagiaan dan kenikmatan segurih tempe dan suasana hati yang senantiasa lunak dan seputih tahu, aamiin...
Semoga bermanfaat..
Penulis: Susilo (Pengurus JatimPAK, Bidang Pengembangan)

Comments
Post a Comment