BARA DI MEGANTARA


Malam gelap diiringi hembusan angin yang membawa hawa hangat menyelimuti Kerajaan Megantara. Bintang tampak berkedip sesekali seolah memberi isyarat seperti kedipan mata. Makin larut tambah senyap, makin berkurang lalu lalang di jalanan. Sepertinya penghuni kerajaan lebih memilih cari aman diam di kediaman. Memang suasana seperti ini tak biasanya, karena sesui pengumuman panitia kerajaan malam ini mulai masuk pekan tenang.

Jika dihitung mundur, sejak 60 hari yang lalu telah terjadi perang syaraf yang melelahkan fisik dan mental rakyat Megantara. Sepeninggal Raja Megamadara, Sang Pendiri Kerajaan dan raja pertama, Dewan Penasihat Kerajaan melakukan musyawarah alot berhari-hari, finalnya Mereka berani menetapkan lompatan keputusan yang berbeda dengan adat kerajaan disekitarnya. Kala itu Pimpinan Dewan Penasihat Kerajaan, Obito Harunoto dalam argumentasinnya memaparkan pertimbangan dihadapan semua Anggota Dewan, "Kerajaan Megantara harus tetap bertahan, tetap tegak berdiri, ini menjadi tanggungjawab kita. Megantara harus mampu menghadapi perubahan zaman, tidak boleh menjadi tirani, tak pula ada monopoli. Kita harus berani mengambil langkah jika menginginkan ada lompatan kemajuan dan pertahanan kerajaan..

Semua Anggota Dewan Penasihat Kerajaan masih mendengarkan dengan serius, keliahatannya Mereka belum bisa menangkap arah pemaparan Sang Ketua. 

"Mari kita mengambil pelajaran dari beberapa kerajaan di negeri seberang, Kita harus memberikan kesempatan kepada setiap generasi terbaik kerajaan untuk menjadi pucuk pimpinan. Tanpa memandang apakah dia keturunan dari Baginda Raja atau bukan. Tapi Kita pastikan dari kadar kemampuan, kejujuran, kedisiplinan, tanggungjawab, ide kreasi, inovasi dan cara pandang ke depan untuk kemajuan kerajaan" Sang Ketua menghentikan sejenak paparannya untuk sedikit meneguk air segar disediakan.

Sebagian Anggota ada yang mulai menganggukkan kepala menerima dan memahami argumen dari Sang Ketua, ada yang menengok kanan dan kiri seperti menggambarkan keadaan hati, ada pula yang mematung dalam kegundahan mengatur strategi. Setelah Sang ketua menuntaskan paparannya forum rapat diberi kesempatan untuk berpendapat. Ada beberapa kelompok pendapat yang muncul dipermukaan, kelompok pertama yang menyetujui gagasan Sang Ketua secara utuh, artinya calon raja seorang yang profesional, dari unsur manasaja tanpa pandang keturunan. Kelompok kedua, setuju namun Mereka mengajukan calon sendiri dari kelompoknya. Sedang kelompok ketiga adalah yang keras membentur pendapat Ketua. Mereka ingin mempertahankan pimpinan pengganti harus dari keturunan kerajaan. 

Akhir dari musyawarah disepakati siapapun boleh diusung sebagai calon pengganti raja, tentu disertai berbagai persyaratan kompetensi. Kemudian untuk memuluskan jalan prosesi pergantian pimpinan dibentuklah panitia khusus. 

Malam pertama pekan tenang ini sesungguhnya bergemuruh bara di dada masing-masing rakyat Megantara, karena hal ini berbeda dengan tradisi sebuah kerajaan, mereka pertama kalinya diberi hak untuk memilih calon pemimpinnya. Diantara Mereka membara berusaha keras mengatur strategi gerakan bawah tanah. Gerakan rakyat yang menghendaki agar Pangeran Umuzaki Natantara yang Mereka kenal sangat cerdas dan moralnya baik ini bisa menjadi pemimpinnya. Mereka menilai sang pangeran layak memimpin kerjaan walau bukan keturunan dari raja sebelumnya. 

Gerakan membara ini tanpa pamrih pribadi, Mereka hanya berpikir untuk kebaikan, keutuhan, kemajuan dan ketahanan stabil dimasa depan. Secara diam-diam, dari hati ke hati mereka bergerak bak arus air dalam. Mereka mengalir, menyentuh, membasahi dengan kesadaran, saling menguatkan untuk bersama menetukan pilihan dengan cara cerdas. Memilih tanpa dipengaruhi iming-iming tertentu, tetap tegak lurus mempertahankan suara hati. Gerakan ini benar-benar rapat, tak tercium oleh siapapun, karena mereka meniadakan gerakan membentur, langkahnya benar-benar lentur, halus, pelan dan pasti.

Tiba detik diakhir pengumpulan suara, mulai terasa bahwa arus gerakan bara hati rakyat Megantara membumbung tinggi jauh diluar ekspektasi. Senyum bahagia diiringi sorak renyah lirih tanpa uporia berlebih menghiasi sudut-sudut kerajaan. Kekuatan bara hati mengalahkan segala hambatan dan tebalnya benteng ambisi nafsu kekuasaan. 

Penulis: Susilo






Comments

Popular posts from this blog

DAKWAH, SOSIAL, DAN NASIONALISME

Kekuatan yang Tak Terkalahkan

MALU DENGAN SEPATU