BANGGA BERBATIK LURIK
Sejarah Singkat Batik Lurik
Mengutip Ensiklopedi Nasional Indonesia (1997), memberikan penjelasan bahwa lurik adalah tekstil benang asli daerah Jawa Tengah yang motif dasarnya bergaris-garis atau bercak-bercak berwarna gelap, biasanya di antara benang-benang yang berbeda warna.
Dari tinjauan kata, lurik berasal dari akar kata “tik” yang berarti garis atau selokan yang kemudian diartikan secara khusus sebagai pagar atau tempat berlindung.
Dari beberapa situs sejarah, lurik kangas sudah sangat lama dikenal sejak zaman Kerajaan Majapahit. Bukti sejarah yang lain, pada Relief Candi Borobudur juga menunjukkan keberadaan penenun kain bergaris di atas tunggul pohon.
Seiring perjalanan waktu, kain lurik digunakan sebagai pakaian pria atau wanita dikenal sebagai beskap dan dipakai sebagai jarik atau kebaya untuk wanita. Saat ini, kain lurik bahkan digunakan sebagai pakaian sehari-hari di beberapa daerah.
Batik Lurik Bumi Ngrowo
Batik kebanggaan Warga Tulungagung ini mulai dikenalkan dalam event East Java Fashion Harmoni 2024 yang digelar di pantai Midodaren pada tanggal 22 Juni 2024 lalu.
Batik khas Tulungagung motif Lurik Bhumi Ngrowo, mengambil inspirasi dari sejarah Kabupaten Tulungagung yang dahulu kala bernama Kadipaten Ngrowo yang merupakan wilayah rawa-rawa. Dari sejarah itulah, maka lahir pakaian batik khas Tulungagung dengan motif Lurik Bhumi Ngrowo.
Dalam pakaian khas tersebut, motif lurik menggambarkan banyu mili (air mengalir) yang berjumlah jajar 9 jalur. Ini melambangkan aliran air yang terus mengalir menghadirkan kebaruan dan kejernihan.
Sembilan aliran motif batik juga menggambarkan angka 9 yang merupakan angka tertinggi dan sebagai simbol penyelesaian, serta memiliki nilai tertinggi, juga mewakili puncak pengalaman dan kebijaksanaan.
Jajar 9 alur garis motif menyimbolkan banyaknya Desa (Thani) yang mendapat penghargaan sima (perdikan/keistimewaan) oleh Raja Kertajaya atau Raja Daha terakhir yang tertulis dalam Prasasti Lawadan. Prasasti Lawadan yang awalnya berada di wilayah Water Kroya sekarang telah disimpan di Museum Kabupaten Tulungagung.
Berdasarkan Prasasti Lawadan yang dibuat pada tanggal 18 November 1205 Masehi. Dimana tanggal itu sejak tahun 2002 ditetapkan sebagai penanda Hari Jadi Kabupaten Tulungagung.
Kemudian secara garis besar, batik ini menceritakan sejarah tentang Tulungagung dengan cara mengingat kembali bahwa wilayah ini memiliki Prasasti Lawadan dan histori Daerah Ngrowo. Sekaligus Pakaian khas tersebut merupakan pakaian yang mengekspresikan identitas masyarakat Tulungagung dan memakai bentuk khas tradisional Jawa.
Menurut Penulis, barisan banyu mili yang berjumlah sembilan bisa juga melambangkan 9 nilai integritas, yaitu aliran sungai dari sumber mata air jernih yang memproyeksikan kejernihan hati sebagai tempat tumbuhkembang integritas diri. Jika ditinjau dari sudut pandang organisasi masa umat Islam terbesar di dunia (Nahdlatul Ulama), maka 9 aliran sungai motif batik lurik juga menggambarkan 9 bintang yang menjadikan petunjuk arah dan menambah indah langit Bhumi Ngrowo.
Bangga Memakai Batik Lurik
“Hari ini, Batik Lurik Bumi Ngrowo resmi dilaunching dan sudah ada Perbupnya yaitu Perbup no 17 tahun 2024 yang nantinya akan diterapkan mulai bulan depan yakni Oktober. Dimana dipakai di setiap hari Kamis pada Minggu pertama setiap bulannya ,” Penjelasan Pj. Bupati Tulungagung Bapak Ir. Heru Suseno, M.T.
Launching Pakaian khas Kabupaten Tulungagung ini adalah batik dengan motif "Lurik Bhumi Ngrowo" bersamaan dengan kegiatan Extravaganza Exotica Tulungagung Carnival di halaman Kantor Bupati Tulungagung. Sabtu pada tanggal 21 September 2024.
Pada Hari Kamis, tanggal 10 Oktober 2024 kemarin adalah menjadi hari yang membanggakan sebagai hari pertama semua Pegawai di lingkup Pemda Tulungagung mengenakan Batik Lurik Bhimi Ngrowo.
Penulis: Susilo

Comments
Post a Comment