PELAJARAN CINTA YANG TERLUPA
Tahun 2010 kami pernah membuat jargon yang kami tujukan untuk desa kami
tercinta, walau waktu itu belum terlalu kental dengan “Hubbul wathon minal iman”. Inspirasi kebaikan itu bersifat
universal memang benar, sehingga kami yang jauh dari pemaham bisa muncul yang
selaras dengan jargon bernuansa agama tersebut. Lagi-lagi hal seperti ini
tersambung secara otomatis, karena semua disambungkan di alam quanta,
seirama dengan ilmu dari Pak Abu, Pak Nas dan Mas Nunu. Kebaikan dan keburukan
itu satu sama dan terhubung dengan masing-masing barisannya (ilmu dari Guru-guru kami
yang bisa kami pahami).
“Whatever I Love Tanjungsari”
begitulah jargon yang kami abadikan dengan tulisan pada kaus seragam kala itu.
Jargon ini sebagai upaya menumbuhkan rasa cinta pada desa yang semestinya dicinta dengan
apa adanya, maka kata yang pas, “Bagaimanapun aku cinta Tanjungsari”.
Cinta seutuhnya, sejati dari hati yang tumbuh tanpa syarat tertentu. Cinta yang
bisa menerima kekurangan dan kelebihan. Cinta yang bisa melihat kekurangan
sebagai tantangan untuk perbaikan dan memandang kelebihan sebagai modal untuk
pengembangan. Cinta yang dipacu tumbuh bukan karena siapa yang yang didepan atau pimpinan
di desanya, tapi cinta natural, universal non
tendensius.
Jika cinta itu muncul, dengan prinsip jikalau Kepala Desanya (atau pimpinan dalam arti yang luas) si dia maka aku cinta Desaku Tanjungsari, jika bukan dia maka aku gak cinta lagi. Dari sini lo muncul cuek saja, tak respek, tak menghiraukan dan cenderung malah counter, membentur, mengintip dari celah
terkecil untuk mencari kekurangan lebih banyak,
tak ada solusi tak punya kreasi, mengambil posisi jadi
oposisi istilah orang politik. Maka itu
bukan cinta sejati, tapi cinta yang egois. Egoisme diri yang tumbuh dari
tipisnya pemahaman rasa cinta suci dan berkembang karena terbatasnya cara pandang. Cinta seperti ini biasanya
hanya berkutat pada kelompoknya saja, meninggikan, membanggakan dan
mengagung-agungkan orang atau kelompoknya saja. Cinta sejenis ini umunya mudah
memandang rendah orang lain yang diluar komunitasnya.
Jargon tersebut sejatinya adalah pondasi, sebagai modal pemicu tergeraknya hati untuk bersama memperbaiki jika ada kekurangan atau kesalahan. Pondasi sebagai pijakan Bersama melompat lebih tinggi, berprestasi. Jika pondasi ini rapuh, persatuan runtuh. Jika telah kokoh dalam diri setiap orang maka pikirannya tidak akan terkooptasi, terbatasi atau terkungkung.
Dengan pondasi yang benar, siapapun yang ada di depan (memimpin) tidak akan merubah arah gerakan. Semua tetap selalu sama hanya memandang desanya bukan siapa pimpinannya. Emang bisa??? (He he... nti baca di buku kami yaa...)
Penulis: Susilo (Anggota JatimPAK)

Comments
Post a Comment